Halaman

Senin, 13 April 2015

Soal Islam Garis Keras, Ketua Suriah NU Jateng: Khilafah Itu Tidak Mungkin!

Google.com
Semarang- Gencarnya propaganda yang dilakukan oleh golongan islam garis keras menyedot perhatian banyak pihak. Mencegah menyebar luasnya paham tersebut pun terus dilakukan dengan berbagai macam cara, baik melalui instrumen pemerintahan maupun seminar atau diskusi-diskusi kecil di lingkungan akademik dan pondok pesantren. Konsep Khilafah Islam yang mereka usung dianggap tidak relevan dengan kontek keindonesiaan. (Hati-Hati Jika Mendapat Pesan Seperti Ini)

“Tidak mungkin mendirikan khilafah seperti yang dipahami islam garis keras. Khilafah hanya akan tercapai dalam pengertian amal sholeh,” kata Ketua Suriah NU Jawa Tengah K Ubaidillah Shodaqoh dalam diskusi tentang ayat-ayat qital di kantor Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Tengah, Rabu Malam, (09/03).

Gus Ubed, sapaan akrabnya, menyayangkan tindakan golongan islam garis keras seperti ISIS yang menampilkan wajah islam dengan perang dan pembunuhan. “Kalau berperang ya khilafah tidak akan tercapai,” tambahnya.

Menurut Gus Ubed, ayat-ayat perang yang dijadikan landasan oleh islam garis keras tidak bisa dipahami secara tekstual dan sepotong-sepotong. Menafsirkan ayat tersebut harus dilihat pula konteks bagaimana ayat itu turun. Pertama, ayat-ayat perang turun karena umat islam pada zaman Rosulullah diperangi bersama-sama oleh orang kafir. Kedua, orang kafir diperangi karena merusak perjanjian yang telah disepakati dengan umat islam.
“Orang kafir yang diperangi bukan karena kekafirannya. Jadi, umat islam tidak memerangi kalau mereka tidak tidak memerangi” tegasnya.

Gus Ubed menegaskan, tidak ada takhsis pada ayat-ayat perang bahwa kita harus memerangi orang kafir tertentu. Ayat-ayat perang turun pada saat Nabi Muhammad sudah membangun negara Madinah dan sebagai pimpinan beliau sudah menjadi sosok yang dihormati.

Diskusi rutin yang dilaksanakan dua bulan sekali itu dihadiri oleh perwakilan dari pesantren mahasiswa di Semarang. Selain itu hadir juga Dr. H. Abdullah Maimun dan Ketua RMI Jawa Tengah Abdul Ghoffar Rozin sebagai pembicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar