![]() |
| Google.com |
Semarang- Gencarnya
propaganda yang dilakukan oleh golongan islam garis keras menyedot perhatian
banyak pihak. Mencegah menyebar luasnya paham tersebut pun terus dilakukan dengan
berbagai macam cara, baik melalui instrumen pemerintahan maupun seminar atau
diskusi-diskusi kecil di lingkungan akademik dan pondok pesantren. Konsep
Khilafah Islam yang mereka usung dianggap tidak relevan dengan kontek
keindonesiaan. (Hati-Hati Jika Mendapat Pesan Seperti Ini)
“Tidak
mungkin mendirikan khilafah seperti yang dipahami islam garis keras. Khilafah
hanya akan tercapai dalam pengertian amal sholeh,” kata Ketua Suriah NU Jawa
Tengah K Ubaidillah Shodaqoh dalam diskusi tentang ayat-ayat qital di
kantor Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Tengah, Rabu Malam, (09/03).
Gus
Ubed, sapaan akrabnya, menyayangkan tindakan golongan islam garis keras seperti
ISIS yang menampilkan wajah islam dengan perang dan pembunuhan. “Kalau
berperang ya khilafah tidak akan tercapai,” tambahnya.
Menurut
Gus Ubed, ayat-ayat perang yang dijadikan landasan oleh islam garis keras tidak
bisa dipahami secara tekstual dan sepotong-sepotong. Menafsirkan ayat tersebut
harus dilihat pula konteks bagaimana ayat itu turun. Pertama, ayat-ayat perang
turun karena umat islam pada zaman Rosulullah diperangi bersama-sama oleh orang
kafir. Kedua, orang kafir diperangi karena merusak perjanjian yang telah
disepakati dengan umat islam.
“Orang
kafir yang diperangi bukan karena kekafirannya. Jadi, umat islam tidak
memerangi kalau mereka tidak tidak memerangi” tegasnya.
Gus
Ubed menegaskan, tidak ada takhsis pada ayat-ayat perang bahwa kita
harus memerangi orang kafir tertentu. Ayat-ayat perang turun pada saat Nabi
Muhammad sudah membangun negara Madinah dan sebagai pimpinan beliau sudah
menjadi sosok yang dihormati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar