Dewi Maghfie
https://www.facebook.com/dewi.maghfie?fref=ts
Rumah menjadi tempat untuk kembali. Rumah pula menjadi saksi
dimana masa ke masa telah dilewati dengan menyenangkan. Mengingat rumah,
memulihkan kembali ingatan yang hingar-bingar oleh keriuhan yang semakin
mendesak. Bahwa rumah menjadi tempat yang pas untuk melucuti diri, tentang
sebuah pesan, dan tentang rindu. Sejauh-jauhnya seseorang pergi ia akan kembali
ke rumah, walau sekadar untuk bersapa.
enyoal rumah, aku suka dengan rubrik ‘Aku & Rumahku’ pada
harian Kompas Minggu yang menyajikan perspektif unik akan rumah-rumah.
Sekaligus makna yang terselip dari setiap pemiliknya. Misalnya rumah Sen Pao,
seorang pelukis asal Jawa yang menetap di Bali. Bagi Sen Pao, ia memaknai hidup
serupa dengan profesi pelukis. Seorang pelukis, sedari awal mesti belajar
anatomi lewat gambar model. Sebagai manusia yang hidup berkeluarga, ia
menyiapkan bentuk (bangunan), yang menjadi unggun, dimana hidup mesti didirikan.
Di situlah garis dan warna akan berperan memberi karakter.
Rumah adalah rekaman sejarah. Di sana pula kerenyahan hidup
didapat. Pada lahan sempit, pemilik menggagas supaya setiap ruangan nampak luas
dan nyaman. Nah, butuh siasat bukan. Atau pemilik mempunyai lahan yang begitu
luas, namun bingung bagaimana untuk memanfaatkannya. Di situ juga butuh siasat.
Bahwa setiap orang menginginkan kebahagian hadir di rumahnya. Atau lebih
tepatnya, memaknai kebahagian di rumahnya.
Betulkah rumah bagaimana pun kondisinya menjadi tempat yang
nyaman untuk pulang? Betul.
Mari bercerita tentang sisi dari rumah. Sudut manakah yang kamu
suka di rumahmu? Kamar tidur? ruang makan? Ruang tamu? Toilet? Dapur? Ruang
ibadah? Ruang keluarga, dll? Atau, sebab rumahmu meyakini prinsip kebersamaan,
sehingga tak ada sekat antar ruang ke ruang.
Ada cerita dari suatu rumah. Mungkin, orang tak ada yang bilang
bisa ‘kerasan’ di rumah tersebut. Hampir-hampir orang menginginkan untuk tidak
berkunjung di sana. Ia lah rumah bagi orang-orang yang berikhtiar untuk kembali
sehat. Pukul 05.30 di kursi ruang pendaftaran rumah sakit umum daerah RA
Kartini Jepara telah berjajar sepuluhan orang. Walau petugas belum datang, dari
pintu utama terus berdatangan pasien. “Sengaja datang pagi-pagi, agar dapat
nomor antrian awal,” katanya. Jika datang siang sedikit katakanlah pukul 08.00
nomor antrian akan mencapai ratusan. Pagi itu, suasana riuh-senyap memadati
poli-poli. Semua kursi di semua poli tak ada yang tersisa satu pun yang nampak
tak diduduki. Bahkan, yang berdiri, yang duduk, dan di kursi roda nampak
berjubel. Jika mau lewat harus ngantri untuk melangkahkan kaki. Riuh, sebab
suara-suara pasien yang cicitcuit menanti dokter yang tak kunjung datang.
Senyap, sebab melihat muka-muka sendu, cemas, dan kening yang berkerut dari
pasien.
Namun begitu, cerita terus mengalir dari satu kursi ke kursi
lainnya. Kursi-kursi tersebut tentu tak pernah kesepian. Setiap hari ia
mendengar berbagai cerita. Aku menduga mengapa kursi tersebut dibuat dengan
bahan besi tidak kayu, sebab ia harus kuat untuk mendengar cerita dari banyak
pasien. Bayangkan, jika kursi tersebut dibuat dari kayu, maka akan cepat lapuk.
“Aku sudah 2 bulan ini bolak-balik rumah sakit, Buk. Ya piye
meneh ya golek tombo.”
“Aku Mbak, wes nang ndi nang ndi. Iki arep operasi wae.”
“Pak-pak, kancane okeh sing sakit kados niku. Sing bablas ya
banyak. He he. Sing sembuh juga banyak. Ikhtiar wae, pasrah.” Begitu beberapa
obrolan pasien satu dengan yang lain.
Kursi tersebut juga tidak dirancang individualis, terlihat dari
tangan kursi yang tidak dirancang per dudukan. Lain halnya dengan kursi-kursi
di persekolahan. Rata-rata dibuat dari kayu. Jarang sekali yang dibuat dari
kayu jati atau ulin atau besi. Dengan beban yang banyak pada siswa, kursi-kursi
tersebut tak cukup kuat mendengar cerita siswa. Saat pelajaran diminta fokus
mendengar guru, saat istirahat antri jajan cireng sudah pas 15 menit bel masuk.
Duh, lalu kapan ceritanya? Haha. Siswa sepertiku, tentu akan meluapkan cerita
dengan mencorat-coret di meja kursi, aku sebel kamu, aku cinta kamu, guru anu
nyebelin pake banget, aku pengen eskrim tapi nda punya duit, dll. Lebih, di
ruang guru kursi dirancang dari bahan busa. Empuk tur mendat kalau diduduki.
Apa ini ada hubungannya? Hambuh….
Persepsi Sakit
Tiga hari dua malam di rumah sakit, aku mengenal Maria. Ia
karyawan sebuah perusahaan. Ia seorang yang ceria. Katanya, setelah ia divonis
cancer mammae, ia hampir lupa gimana cara ketawa. Senin (2/3), setelah cek
laborat, ia diminta untuk opname dan mengikuti serangkaian operasi. Gemetar,
lemes, dan sempoyongan, ia berjalan menuju kamar inap. Betapa, rumah yang tak
pernah diinginkan olehnya untuk diinapi. Sebelum dipasang infus, ia mencoba
untuk memulihkan diri menjadi Maria yang ceria. Satu bansal ke bansal yang lain
ia kunjungi. Ia hanya ingin mendengar cerita untuk menguatkan dirinya.
Ia sempat berada pada titik yang begitu menakutkan. Berpikir
akan segera tiada dan masih memiliki tanggungjawab akan banyak hal. “Aku cerita
sama bojoku. Pak, iki piye. Kog aku deg-degan, lha kalau ada apa-apa gimana?”
tuturnya. “Ya wis berarti, wis tutuk semono wae.” Maria lantas tambah cemas
mendengar jawaban suami. “Padahal kan, aku menginginkan jawaban yang
menenangkan. Lha kog malah gitu. Aku uda mikir yang macam-macam. Tentang ibu
tiri, tentang anak, hambuh ada semua. Ha ha….” lanjutnya dengan wajah yang
ekspresif seusai operasi. Di ruang Dahlia kelas III, Maria seolah hadir sebagai
komedian. Di ruangan berjumlah 8 pasien tersebut, ia berlagak seorang aktris
yang memerankan peran seorang yang sedang divonis penyakit. Dan ia bercerita
tentang persiapan sebelum dan sesudah berakting. Hanya akting. Namun, ia benar
mengalaminya. Ha ha.
“Mbak, ya wis aku pamitan ya. Kata dokter wes entuk pulang.
Semangat ya, pokoke setelah operasi ki lega,” tuturnya menghibur beberapa
pasien yang akan menjalani operasi. “Aku arep pulang ngangkot wae, rak usah
manja ndadak nyewa mobil, sudah seperti sakit beneran aja. Lho ternyata kog
infuse belum dicabut?” Sontak seluruh ruangan riuh dengan canda tawa.
Berjalan menuju ruangan bayi dan
anak. Seorang anak yang terbaring dengan dipasang berbagai alat di mulutnya,
hidungnya, hingga tangan & kaki. Nampak, seorang bapak menunggui di
sampingnya dengan tenang dan penuh harapan. Disampingnya, berjajar bayi-bayi mungil
di dalam inkubator. Ibu-ibu yang berupaya untuk memerah susu yang tak kunjung
keluar. Seorang kakek-nenek yang mengintip dari balik jendela.
Menuju gedung di sebelahnya
ruangan psikiatrik. Mengamati seorang perempuan dengan baju a la anak-anak teknik
berwarna kuning di balik jeruji. Ku sapa dengan berbagai cara tak sedikit pun
ia beranjak, atau balik menyapaku. Pandangannya terus meneropong dengan
sesekali tersenyum kecil. Di seberangnya pasien psikiatrik laki-laki meneriaki
aku. Umurnya sekitar 20-an. Ia meminta jajanan dengan menuding-nuding dan
mengancam. Sebab, aku diam saja, ia masuk ke kamar-kamar dan membawa satu
pasukan, mungkin mereka berencana untuk mengeroyokku dan meminta makanan.
Melihat peristiwa itu seperti video klip boy band korea yang sedang berakting.
Aku mengamati itu dari luar jeruji. Masih diam, termangu. Teriakan demi
teriakan kian keras.
Apakah kehidupan begitu kejam? Di
rumah ini, aku yakin segala harapan terus mengalir. Sebab harapan bukanlah
wujud impian pada kondisi ideal. Namun, harapan adalah bentuk kepasrahan dalam
rajutan ikhtiar. Begitu, persepsi sakit adalah ujian kesabaran dan tidak ada
penyakit tanpa obat adalah ikhtiar kepasrahan pada Tuhan.
Dalam psikologi kesehatan
menekankan pendekatan yang holistik. Yakni faktor sosial-psikologis pasien
dengan memahami peristiwa kehidupan dan aspek sosial-psikologis pengobatan
yakni hubungan antar tenaga kesehatan-pasien. Keduanya hadir bukan atas dasar
siapa yang butuh. Namun, memahami interaksi antar manusia begitulah pelajaran
hidup. Itu diajarkan oleh dosen yang paling tua di jurusanku. Bu Rustiana
namanya, usianya kini hampir 70 tahun. Ia masih nyetir sendiri, bahkan
mengangkat tanaman beserta pot ke lantai 2. Lalu, seperti apa harapan rumah
dalam diri kita bangun?
DM | Rumah | 3/7/2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar