Halaman

Sabtu, 07 Maret 2015

Sesaat di Suatu Rumah

Dewi Maghfie
https://www.facebook.com/dewi.maghfie?fref=ts

Rumah menjadi tempat untuk kembali. Rumah pula menjadi saksi dimana masa ke masa telah dilewati dengan menyenangkan. Mengingat rumah, memulihkan kembali ingatan yang hingar-bingar oleh keriuhan yang semakin mendesak. Bahwa rumah menjadi tempat yang pas untuk melucuti diri, tentang sebuah pesan, dan tentang rindu. Sejauh-jauhnya seseorang pergi ia akan kembali ke rumah, walau sekadar untuk bersapa.


enyoal rumah, aku suka dengan rubrik ‘Aku & Rumahku’ pada harian Kompas Minggu yang menyajikan perspektif unik akan rumah-rumah. Sekaligus makna yang terselip dari setiap pemiliknya. Misalnya rumah Sen Pao, seorang pelukis asal Jawa yang menetap di Bali. Bagi Sen Pao, ia memaknai hidup serupa dengan profesi pelukis. Seorang pelukis, sedari awal mesti belajar anatomi lewat gambar model. Sebagai manusia yang hidup berkeluarga, ia menyiapkan bentuk (bangunan), yang menjadi unggun, dimana hidup mesti didirikan. Di situlah garis dan warna akan berperan memberi karakter.

Rumah adalah rekaman sejarah. Di sana pula kerenyahan hidup didapat. Pada lahan sempit, pemilik menggagas supaya setiap ruangan nampak luas dan nyaman. Nah, butuh siasat bukan. Atau pemilik mempunyai lahan yang begitu luas, namun bingung bagaimana untuk memanfaatkannya. Di situ juga butuh siasat. Bahwa setiap orang menginginkan kebahagian hadir di rumahnya. Atau lebih tepatnya, memaknai kebahagian di rumahnya.

Betulkah rumah bagaimana pun kondisinya menjadi tempat yang nyaman untuk pulang? Betul.

Mari bercerita tentang sisi dari rumah. Sudut manakah yang kamu suka di rumahmu? Kamar tidur? ruang makan? Ruang tamu? Toilet? Dapur? Ruang ibadah? Ruang keluarga, dll? Atau, sebab rumahmu meyakini prinsip kebersamaan, sehingga tak ada sekat antar ruang ke ruang.

Ada cerita dari suatu rumah. Mungkin, orang tak ada yang bilang bisa ‘kerasan’ di rumah tersebut. Hampir-hampir orang menginginkan untuk tidak berkunjung di sana. Ia lah rumah bagi orang-orang yang berikhtiar untuk kembali sehat. Pukul 05.30 di kursi ruang pendaftaran rumah sakit umum daerah RA Kartini Jepara telah berjajar sepuluhan orang. Walau petugas belum datang, dari pintu utama terus berdatangan pasien. “Sengaja datang pagi-pagi, agar dapat nomor antrian awal,” katanya. Jika datang siang sedikit katakanlah pukul 08.00 nomor antrian akan mencapai ratusan. Pagi itu, suasana riuh-senyap memadati poli-poli. Semua kursi di semua poli tak ada yang tersisa satu pun yang nampak tak diduduki. Bahkan, yang berdiri, yang duduk, dan di kursi roda nampak berjubel. Jika mau lewat harus ngantri untuk melangkahkan kaki. Riuh, sebab suara-suara pasien yang cicitcuit menanti dokter yang tak kunjung datang. Senyap, sebab melihat muka-muka sendu, cemas, dan kening yang berkerut dari pasien.

Namun begitu, cerita terus mengalir dari satu kursi ke kursi lainnya. Kursi-kursi tersebut tentu tak pernah kesepian. Setiap hari ia mendengar berbagai cerita. Aku menduga mengapa kursi tersebut dibuat dengan bahan besi tidak kayu, sebab ia harus kuat untuk mendengar cerita dari banyak pasien. Bayangkan, jika kursi tersebut dibuat dari kayu, maka akan cepat lapuk.


“Aku sudah 2 bulan ini bolak-balik rumah sakit, Buk. Ya piye meneh ya golek tombo.”
“Aku Mbak, wes nang ndi nang ndi. Iki arep operasi wae.”
“Pak-pak, kancane okeh sing sakit kados niku. Sing bablas ya banyak. He he. Sing sembuh juga banyak. Ikhtiar wae, pasrah.” Begitu beberapa obrolan pasien satu dengan yang lain.

Kursi tersebut juga tidak dirancang individualis, terlihat dari tangan kursi yang tidak dirancang per dudukan. Lain halnya dengan kursi-kursi di persekolahan. Rata-rata dibuat dari kayu. Jarang sekali yang dibuat dari kayu jati atau ulin atau besi. Dengan beban yang banyak pada siswa, kursi-kursi tersebut tak cukup kuat mendengar cerita siswa. Saat pelajaran diminta fokus mendengar guru, saat istirahat antri jajan cireng sudah pas 15 menit bel masuk. Duh, lalu kapan ceritanya? Haha. Siswa sepertiku, tentu akan meluapkan cerita dengan mencorat-coret di meja kursi, aku sebel kamu, aku cinta kamu, guru anu nyebelin pake banget, aku pengen eskrim tapi nda punya duit, dll. Lebih, di ruang guru kursi dirancang dari bahan busa. Empuk tur mendat kalau diduduki. Apa ini ada hubungannya? Hambuh….

Persepsi Sakit
Tiga hari dua malam di rumah sakit, aku mengenal Maria. Ia karyawan sebuah perusahaan. Ia seorang yang ceria. Katanya, setelah ia divonis cancer mammae, ia hampir lupa gimana cara ketawa. Senin (2/3), setelah cek laborat, ia diminta untuk opname dan mengikuti serangkaian operasi. Gemetar, lemes, dan sempoyongan, ia berjalan menuju kamar inap. Betapa, rumah yang tak pernah diinginkan olehnya untuk diinapi. Sebelum dipasang infus, ia mencoba untuk memulihkan diri menjadi Maria yang ceria. Satu bansal ke bansal yang lain ia kunjungi. Ia hanya ingin mendengar cerita untuk menguatkan dirinya.

Ia sempat berada pada titik yang begitu menakutkan. Berpikir akan segera tiada dan masih memiliki tanggungjawab akan banyak hal. “Aku cerita sama bojoku. Pak, iki piye. Kog aku deg-degan, lha kalau ada apa-apa gimana?” tuturnya. “Ya wis berarti, wis tutuk semono wae.” Maria lantas tambah cemas mendengar jawaban suami. “Padahal kan, aku menginginkan jawaban yang menenangkan. Lha kog malah gitu. Aku uda mikir yang macam-macam. Tentang ibu tiri, tentang anak, hambuh ada semua. Ha ha….” lanjutnya dengan wajah yang ekspresif seusai operasi. Di ruang Dahlia kelas III, Maria seolah hadir sebagai komedian. Di ruangan berjumlah 8 pasien tersebut, ia berlagak seorang aktris yang memerankan peran seorang yang sedang divonis penyakit. Dan ia bercerita tentang persiapan sebelum dan sesudah berakting. Hanya akting. Namun, ia benar mengalaminya. Ha ha.
“Mbak, ya wis aku pamitan ya. Kata dokter wes entuk pulang. Semangat ya, pokoke setelah operasi ki lega,” tuturnya menghibur beberapa pasien yang akan menjalani operasi. “Aku arep pulang ngangkot wae, rak usah manja ndadak nyewa mobil, sudah seperti sakit beneran aja. Lho ternyata kog infuse belum dicabut?” Sontak seluruh ruangan riuh dengan canda tawa.

Berjalan menuju ruangan bayi dan anak. Seorang anak yang terbaring dengan dipasang berbagai alat di mulutnya, hidungnya, hingga tangan & kaki. Nampak, seorang bapak menunggui di sampingnya dengan tenang dan penuh harapan. Disampingnya, berjajar bayi-bayi mungil di dalam inkubator. Ibu-ibu yang berupaya untuk memerah susu yang tak kunjung keluar. Seorang kakek-nenek yang mengintip dari balik jendela.

Menuju gedung di sebelahnya ruangan psikiatrik. Mengamati seorang perempuan dengan baju a la anak-anak teknik berwarna kuning di balik jeruji. Ku sapa dengan berbagai cara tak sedikit pun ia beranjak, atau balik menyapaku. Pandangannya terus meneropong dengan sesekali tersenyum kecil. Di seberangnya pasien psikiatrik laki-laki meneriaki aku. Umurnya sekitar 20-an. Ia meminta jajanan dengan menuding-nuding dan mengancam. Sebab, aku diam saja, ia masuk ke kamar-kamar dan membawa satu pasukan, mungkin mereka berencana untuk mengeroyokku dan meminta makanan. Melihat peristiwa itu seperti video klip boy band korea yang sedang berakting. Aku mengamati itu dari luar jeruji. Masih diam, termangu. Teriakan demi teriakan kian keras.

Apakah kehidupan begitu kejam? Di rumah ini, aku yakin segala harapan terus mengalir. Sebab harapan bukanlah wujud impian pada kondisi ideal. Namun, harapan adalah bentuk kepasrahan dalam rajutan ikhtiar. Begitu, persepsi sakit adalah ujian kesabaran dan tidak ada penyakit tanpa obat adalah ikhtiar kepasrahan pada Tuhan.

Dalam psikologi kesehatan menekankan pendekatan yang holistik. Yakni faktor sosial-psikologis pasien dengan memahami peristiwa kehidupan dan aspek sosial-psikologis pengobatan yakni hubungan antar tenaga kesehatan-pasien. Keduanya hadir bukan atas dasar siapa yang butuh. Namun, memahami interaksi antar manusia begitulah pelajaran hidup. Itu diajarkan oleh dosen yang paling tua di jurusanku. Bu Rustiana namanya, usianya kini hampir 70 tahun. Ia masih nyetir sendiri, bahkan mengangkat tanaman beserta pot ke lantai 2. Lalu, seperti apa harapan rumah dalam diri kita bangun?


DM | Rumah | 3/7/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar