Halaman

Senin, 27 April 2015

Rupa dalam Bayang




Pada hujan malam ini yang membasahi kota Semarang, aku akan menjadi terlalu naif ketika terburu-buru berbicara dan mencoba berdialektika mendalam tentang esensi dan roh suatu etnis atau daerah yang mungkin mencipta cara berfikir dan perilaku manusia di dalamnya. Sehingga dapat membuat cara pandang yang identik dengan klaim secara futuristik bagi mata dan otak yang ingin mengenalnya. (Lanjutan: Dalam Nyanyian Sunyi)


Bukan karena sebab atau hal apa, namun semua sudah tahu akan segala hal, semua tahu apa yang sebentar. rupa-rupanya ataukah mungkin iya, sehingga seringkali membayang seperti hantu penggoda yang mengganggu dan memaksaku sulit untuk memejamkan mata dan tertidur.

Rupa-rupa warna di dalam kotak akan menambah keindahan setiap memandang, begitulah mindset yang dulu mengakar di otakku. rupa-rupa demikian ternyata setelah secara perlahan aku mulai mengenal cukup mendalam tentang peradaban berubah menjadi serupa saja."kita semua semakin tidak berdaya" dalam bertambahnya umur zaman. namun aku enggan berbicara sebabnya.

coretan ini adalah tentang bentuk perabaan akan hal yang penulis memohon untuk jangan terlalu difikirkan. banyak teman banyak kultural yang menjadikan proses peradaban.

Aku punya banyak teman, ada rupa sebagian teman mengagungkan romansa asmara di mulut dan otaknya, sedang kaki dan tangannya terpasung.

ada rupa sebagian teman yang mengagungkan perutnya, hingga menutup mata kemanusian.
ada rupa sebagian teman yang mengagungkan persolek layar dari rasa penasaran dan penasaran akan segala kemungkinan.

ada rupa sebagian teman jikalau boleh su'udzun hanyalah berorientasi selakangan.
ada rupa sebagian teman yang mana mereka melakukan segala hal atas kehendak peradaban.
ada juga rupa sebagian teman yang memang seperti para samurai yang tak semua punya keahlian pedang.
ada lagi rupa sebagian teman yang mengagungkan kemahiran dan kecerdasan, meski mereka sadar bahwa sudah melakukan penghianatan intelektual.

semua berupa, semua akan mencipta peradaban, entah itu berwujud permata atau sampah.. masih dalam bayang dibalik hujan. selamat malam. (Menarik: Dalam Nyanyian Sepi)

Semarang, 22 april 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar