Pada hujan malam ini yang membasahi kota Semarang, aku akan
menjadi terlalu naif ketika terburu-buru berbicara dan mencoba berdialektika
mendalam tentang esensi dan roh suatu etnis atau daerah yang mungkin mencipta
cara berfikir dan perilaku manusia di dalamnya. Sehingga dapat membuat cara
pandang yang identik dengan klaim secara futuristik bagi mata dan otak yang
ingin mengenalnya. (Lanjutan: Dalam Nyanyian Sunyi)
Bukan karena sebab atau hal apa, namun semua sudah tahu akan
segala hal, semua tahu apa yang sebentar. rupa-rupanya ataukah mungkin iya,
sehingga seringkali membayang seperti hantu penggoda yang mengganggu dan
memaksaku sulit untuk memejamkan mata dan tertidur.
Rupa-rupa warna di dalam kotak akan menambah keindahan
setiap memandang, begitulah mindset yang dulu mengakar di otakku. rupa-rupa
demikian ternyata setelah secara perlahan aku mulai mengenal cukup mendalam
tentang peradaban berubah menjadi serupa saja."kita semua semakin tidak
berdaya" dalam bertambahnya umur zaman. namun aku enggan berbicara
sebabnya.
coretan ini adalah tentang bentuk perabaan akan hal yang
penulis memohon untuk jangan terlalu difikirkan. banyak teman banyak kultural
yang menjadikan proses peradaban.
Aku punya banyak teman, ada rupa sebagian teman mengagungkan
romansa asmara di mulut dan otaknya, sedang kaki dan tangannya terpasung.
ada rupa sebagian teman yang mengagungkan perutnya, hingga
menutup mata kemanusian.
ada rupa sebagian teman yang mengagungkan persolek layar
dari rasa penasaran dan penasaran akan segala kemungkinan.
ada rupa sebagian teman jikalau boleh su'udzun hanyalah
berorientasi selakangan.
ada rupa sebagian teman yang mana mereka melakukan segala
hal atas kehendak peradaban.
ada juga rupa sebagian teman yang memang seperti para
samurai yang tak semua punya keahlian pedang.
ada lagi rupa sebagian teman yang mengagungkan kemahiran dan
kecerdasan, meski mereka sadar bahwa sudah melakukan penghianatan intelektual.
semua berupa, semua akan mencipta peradaban, entah itu
berwujud permata atau sampah.. masih dalam bayang dibalik hujan. selamat malam. (Menarik: Dalam Nyanyian Sepi)
Semarang, 22 april 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar