Ahmad Zakaria
https://www.facebook.com/faqir.zakaria?fref=ts
Kubuka lamunan yang
menyeret kembali pada kisah, engkau meminta barisan tulisan dan sebuah lagu
yang berbisik melalui suaraku.
Apakah kau masih
teringat? Apakah hanya untuk sesaat?
Sehingga, malam ini,
kusembunyi diantara barisan pinus, gunung Andong. Kabut tipis yang mulai
menebal menghampar di pelupuk mata. gemerisik dedaunan yang terhempas angin
menciptakan bayang, membawa fikirku berputar dan sibuk menerka.Tetesan air
langit turun perlahan, membawaku terlupa dengan keterasinganku sembari terdiam.
Dingin, sangat dingin.
Aku terseret pada selaksa peristiwa. "Kaupernah memadamkan amarahku dengan
dingin kasihmu. Dahulu". Kini, yang tersisa, alam sebagai rumah dan tempat
kumengadukan gundah dan keterasinganku. [05 Januari 2015]
Menunggu keajaiban
"langit" yang membasuh hingga bersih tiap rinduku. [29 Januari 2015]
Ungkapan rasa layaknya mengagumi, memperhatikan, menyukai
dan semacamnya bukanlah kata yang baru dalam hidup jika kita mengingat masa
lalu. Kata cinta tak lebih agung dari kata sayang, begitu pun sebaliknya.
Karena keduanya adalah yang pertama diberikan oleh orang tua kita dari Tuhan[10
Januari 2015]
Malam kerap disebut
sarang mimpi dikarenakan dalam kebiasaannya digunakan sebagai waktu istirahat
(tidur). Namun justru di sana adalah tempatmu tersadar dari mimpi (dunia). Jika
dimanfaatkan[11 Januari 2015]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar