Catatan Refleksi
Muhammad Autad An-Nasher
Muhammad Autad An-Nasher
[https://www.facebook.com/muhammad.a.nasher]
Sebagai awam, hamba melihat perseteruan, adu gagasan antara
Habib Syekh dengan Gus Nuril di Yutub begitu prihatin. Kepritahinan saya adalah
ketika video dan pernyataan beliau berdua dimanfaatkan oleh pihak yang tak
bertanggungjawab di media sosial. Yang kepentingannya tak lain adalah untuk
mengadu domba antar umat Islam. Terutama warga Nahdliyyin.
Banyak website atau
media portal yang saya temu untuk memperkeruh suasana ini. Kebanyakan redaksi
dalam pemberitaannya menggunakan nada sarkasme. Ngumpat-ngumpat,
melaknat-laknat, kafir mengafirkan. Sialnya lagi, media tersebut tak jarang
menggunakan label “islami”. Coba saja pembaca googling dengan nama beliau
berdua.
***
Sewaktu di pesantren dulu, tepatnya di kota Kudus, saya
adalah penggemar Habib Syekh, yang kemudian muncul dengan istilah Syekher
mania. Waktu itu belum semarak sekarang. Yang jama’ahnya datang membawa
bendera—laiknya orang mau pergi konser. Terkadang saya rasan-rasan di dalam
hati kecil terkait fenomena ini. Dulu masih sederhana, dari kampung ke kampung.
Walaupun jarak pengajiannya jauh, saya tempuh dengan jalan kaki bersama-sama
santri yang lain. Saya sangat gemar pergi ke pengajian Habib Syekh karena
bacaan Maulid Simthuddurornya. Di samping kecintaan saya dengan para habaib.
Ketika pergi ke acara maulid, pasti yang dicari adalah barokahnya para habaib.
Karena bisa berkumpul dengan salihin. Dan itu menjadi tombo ati bagi saya dan
teman-teman yang lain.
Kecintaan saya pada
bacaan Maulid Simthudduror tak lain karena di sana membacakan sosok baginda
agung, Nabi Muhammad Saw. Yang penuh kasih sayang dan menjadi rahmat seluruh
alam. Suasana acara Maulid pun tampak teduh, nyaman, tenang dan khusyuk.
Terkadang aroma minyak misik dan wewangian menyengat tajam di hidung saya.
Sampai kemudian saya jatuh hati pada kitab karangan Habib Ali bin Muhammad bin
Husain Al-Habsyi tersebut. Bisa dibilang saya agak sedikit hafal dengan bacaan
ini dibanding dengan bacaan maulid yang lain, seperti Maulid Dziba’,
Al-Barjanji, dan Maulid Adl-Dliya Ullami’.
Apalagi ketika
Mahallul Qiyam. Semua jama’ah berdiri—seakan-akan menyambut kehadiran yang
mulia. Yaa Nabi Salam ‘Alaika pun dibaca sembari diiringi tabuhan rebana yang
semakin menambah khidmat suasana. Kembali dengan video yang ada di Yutub. Saya
kemudian teringat dengan pernyataan guru saya, KH. M Arifin Fanani, sewaktu di
pesantren dulu. Waktu itu sedang ngaji kitab Fathul Qarib kalau tidak salah,
beliau mengatakan; “sohabat yo musuhe sohabat, kiai yo musuhe kiai, santri yo
musuhe santri, politisi yo musuhe politisi, lan sak teruse”.
Pernyataan tersebut
waktu itu ketika beliau menjelaskan terkait perseteruan antara Sayyidina Ali
dengan Sayyidah Aisyah dalam perang Jamal. “sedoyo ulama’ lan sesepuh kito,
sampun paring pepiling, mboten pareng ngaran-ngarani dateng apa yang terjadi
pada waktu itu. Diam lebih baik”. Begitu kurang lebih pernyataan beliau yang
saya ingat. Karena peristiwa tersebut merupakan fitnah bagi umat Islam.
Sebagaimana apa yang
terjadi saat ini. Ketika melihat perseteruan antara Gus Nuril dengan Habib
Syekh. Sebagai awam yang juga muridnya Habib Syekh, karena saya dulu sering
mengikuti pengajian beliau, bahkan pernah diberi uang sama beliau sewaktu mau
pengajian. Tidak tahu aku taruh dimana sekarang uang kenang-kenangan itu. Dan
saya juga semadzhab dengan Gus Nuril, sama-sama meneruskan gagasan dan
perjuangan dari almarhum Gus Dur, yang mengayomi umat—tanpa melihat status
agama, suku, ras, dan keyakinan seseorang. Alahkah baiknya, harapan besar saya,
beliau berdua bisa bertemu, silaturrahim, dan bisa tabayun bersama.
Bergandengan tangan. Karena beliau berdua adalah panutan umat. Suri tauladan.
Mengingat kita saat
ini dikerumuni oleh dunia virtual. Siapapun bisa mengakses dengan cepat, dan
fatalnya, kebanyakan orang tidak melakukan kroscek terkait berita yang di
dapatnya. Sedikit tahu; langsung share. Tanpa adanya konfirmasi. Apalagi, perlu
diketahui juga, saat ini banyak website yang kelihatannya berlabel “islam”,
tetapi menebar kebencian. Menggunakan bahasa yang tidak mengikuti kode etik
jurnalis, asal ceplos dan terpenting; rattingnya naik.
Orang-orang seperti
ini yang membahayakan dan perlu diketahui bersama gerak-gerik dan alur
pemikirannya. Bukan berarti media yang menggunakan nama Arab itu kemudian
Islami. Mereka acapkali menebar Islam Marah, bukan Islam Ramah. Walaupun dia
menyuarakan anti kapitalisme, anti neoliberalisme, tapi perlu diingat juga,
mereka juga butuh uang, butuh menaikkan ratting medianya. Agar bisa dapat iklan
dari google dan banyak sponsor.
Saya sendiri juga
pernah teribat di media, walaupun jadi kontributor yang masih level tingkat
teri. Namun setidaknya, saya tahu ideologi media seperti apa. Bad news is good
news. Berita besar karena dibesarkan. Di Jogja ini, saya banyak bergumul dengan
rekan-rekan yang juga terlibat aktif di media.
Banyak cerita ngalor ngidul terkait fenomena maraknya
oknum-oknum yang ingin membuat kerusuhan di tengah-tengah umat dengan membentur
dan mengadu domba umat. Pihak yang tidak suka dengan sholawatan dan tahlilan
(tidak usah menyebut ideologinya karena sudah jelas), pasti sangat suka dengan
adanya perseteruan antara Habib Syekh dengan
Gus Nuril di Yutub.
Mereka akan memainkan
isu ini dengan gencar. Karena ini video, jadi bagaimana sosok mereka berdua
bisa dijual. Dan sudah bisa ditebak, akan kemana alur permainan mereka. Yah,
seperti perseteruan KPK versus Polri kemarin, akan ada banyak pihak yang
tertawa gembira dan memanfaatkan konflik itu dengan senang. Dia bisa bermuka
dua. Dia tidak berpijak pada kebenaran, tetapi kekuasaan. Seperti perseteruan
antara Habib Syekh dengan Gus Nuril, orang-orang ini adalah dia yang akan
berpijak pada kepentingan dan adu domba, bukan kemaslahatan.
Fatalnya, orang-orang
seperti itu kian menjamur di tengah kita dan gerakannya semakin massif. Tetapi,
saya kemudian teringat dengan wejangan dari Mas Imam Aziz, ketua PBNU pusat,
yang pernyataan ini beliau peroleh dari almarhum Gus Dur, “Mas, sing tenang
wae, sing bakal menang kui wong Islam awak dewe..” Wallahhu a’lam bimanihtada.
Yogyakarta,
22-Februari-2015
Catatan refleksi Muhammad Autad An Nasher

Tidak ada komentar:
Posting Komentar